BUMI KRITIS, DUNIA KRISIS
Tanggal 5 Maret 2009 yang lalu saya membaca Head Line berita di KOMPAS : Kondisi Perekonomian Semakin Memburuk. Kondisi perekonomian global yang lebih buruk dari perkiraan membuat pertumbuhan ekonomi domestik kian lambat. Prediksi pertumbuhan 2009 pun kembali diturunkan. Untuk menahan pelambatan lebih dalam, suku bunga acuan dipangkas 50 basis poin menjadi 7.75 persen.
LOVE OUR PRODUCT. IS A GOOD IDEA ?
Mungkin benar juga prediksi banyak orang yang mengatakan bahwa tahun 2009 ini akan merupakan tahun susah bagi Indonesia. Tapi yang membingungkan adalah kalau dikatakan bahwa perekonomian dunia secara umum semakin memburuk. Lha kalau sudah demikian, lantas bagaimana caranya memperbaiki keadaan ekonomi dunia ? Semua negara di dunia ini ingin memperbaiki ekonomi mereka masing-masing. Hampir semua negara berusaha meningkatkan ekspor mereka dan sekaligus berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan produk dalam negeri mereka sendiri. Bahkan Presiden AS – Barack Obama menyerukan Love American Product, yang membuat negara-negara pengekspor ke AS menjadi gusar. Semua negara menyerukan Love Our Product. Tapi apakah di era globalisasi ini suatu negara masih bisa hidup dari produk yang mereka hasilkan sendiri. System Ekonomi Dunia memang kompleks.
KEMARIN CARITA SEPI
Weekend kemarin saya dipaksa oleh keluarga untuk berlibur ke Tanjung Lesung Banten selama tiga hari ( 6-8 June 2008 ). Memang saya bukan pengendara mobil dengan kecepatan tinggi atau speed driver, akan tetapi juga terganggu dengan kondisi jalan yang penuh dengan lubang. Saya kira hanya di jalan menuju kampung saya di Bekasi saja yang banyak lubangnya.
Seingat saya, kalau weekend, jalanan menuju arah Pantai Carita selalu rame dengan mobil –mobil para pelancong, tapi kali ini saya merasa sepi sekali. Hotel yang tahun lalu sedang direnovasi, hingga kemarin kondisinya masih sama seolah-olah proses renovasi terhambat. Tentu saja kami tidak mengalami kesulitan untuk menemukan penginapan di Carita.
Para penjaja makanan, souvenir dan layanan lain mengerumuni kami untuk menawarkan dagangannya, maklumlah karena sasarannya hanya beberapa orang saja. Tempat-tempat pelelangan ikan dan pasar-pasar tradisional juga sepi. Ketika saya tanyakan kepada beberapa penduduk disana, mereka mengatakan “belum musim liburan”, “ada isu tsunami” “ada isu gunung krakatau mau meletus”, “harga BBM naik”.
Kondisi ini kelihatannya akan menguntungkan bagi kelestarian alam di pantai Carita dan sekitarnya. Tapi bagaimana nasib rakyat yang terlanjur berharap dari Visit Indonesia 2008 yang dicanangkan pemerintah ? Apakah rekan-rekan mempunyai ide yang bisa dibagikan kepada mereka ?
Ronny Siagian Production Manager of PT. ISTW Founder of CKS FoundationHARGA SEBATANG POHON
Tadi malam saya tahu harga sebatang pohon tanjung berukuran tiga meteran yang ditanam didepan sebuah klinik.
Selain harga pohon itu sendiri juga ditambah ongkos bongkar pasang baliho berukuran 2 x 5 meter ditambah biaya kekesalan seorang dokter. Bukan karena masalah penyakit atau pasien, tetapi karena kesalahan tukang yang memasang baliho tidak pada tempat yang sudah ditetapkan. Kesalahan penempatan baliho ternyata mengurangi lebar satu jalur parkir di depan klinik yang jaraknya sudah disetting dengan sebatang pohon tanjung setinggi tiga meteran.
Dengan gampangnya si tukang memberi saran yang sangat praktis “kok repot-repot pohonnya saja yang dicabut”. Spontan si dokter marah besar “enak aja, bla…bla…!@#$%^&*()_+…. sudah dibilangin tempatnya disitu malah ditaruh disini”. Akhirnya diputuskan untuk memindahkan kembali baliho ke tempat yang sudah ditunjuk tanpa mengganggu sebatang pohon tanjung setinggi tiga meteran.
Mungkin kita sering melihat atau mendengar penebangan pohon-pohon baik di kota, di desa, di hutan tanpa banyak pikir. Hendak mau bikin kebun jagung, menggundul hutan. Bangun rumah, tebang pohon. Bikin jalan, tebang pohon. Tujuh belasan, tebang pohon. Bikin lapangan volley, tebang pohon. Bikin kandang ayam, tebang pohon. Apa saja, selalu tebang pohon.
Kenapa sih selalu tebang pohon ? Kalau tidak bisa menanam jangan menebang ! Sekarang memang tidak repot tapi nanti kita PASTI AKAN BERMASALAH, pasti kita akan membayar harga yang sangat mahal.
Ronny Siagian Production Manager of PT. ISTW Founder of CKS FoundationENERGY FOR THE NEXT GENERATION
Minggu-minggu ini banyak masyarakat Indonesia yang berdemonstrasi untuk meminta pemerintah untuk meninjau kembali rencana kenaikan BBM.
Memang banyak juga masyarakat yang kurang mengerti, “kenapa Indonesia yang dulu terkenal sebagai salah satu negara penghasil minyak bumi di dunia kok bisa kekurangan BBM ?”. Memang dunia ini sudah mulai kehabisan BBM terutama yang berasal dari perut bumi, bukan hanya Indonesia saja. Sebenarnya jauh-jauh hari kita sudah mengetahui bahwa suatu saat minyak bumi tersebut akan habis. Nah kalau sudah mulai habis, wajarlah kalau harganya menjadi mahal. Yang menjadi masalahnya adalah bahwa BBM tersebut sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, sudah seperti nasi, sementara daya beli masyarakat tergolong rendah. Mungkin itulah yang membedakan kita dengan negara-negara yang masyarakatnya kaya , mereka tetap mampu beli.
Oleh karena itu kita harus cepat-cepat mengganti minyak bumi dengan bahan bakar yang berasal dari bahan lain, seperti pohon jarak, kelapa sawit, tebu, jagung, singkong, angin, air atau panas matahari bahkan dari kotoran hewan. Katanya proses pengolahannya masih mahal sehingga tidak ekonomis. Nah, lantas bagaimana dong ?. Ah.. mudah-mudahan proses pengolahan tumbuh-tumbuhan tersebut bisa segera diusahakan supaya lebih ekonomis, sehingga kita cepat-cepat beralih dari minyak bumi ke biodiesel atau biogas. (more…)
GRUMBLE and GRUNDEL
MENGELUH TERUS
Entah berapa lobang yang selalu saya lewati setiap hari di sepanjang perjalanan saya pergi-pulang kerja. Ada juga pembatas busway dan banyaknya portal perumahan yang menghalangi perjalanan saya. Selain itu masih ada lagi kekurangan-kekurangan yang saya temui di sepanjang jalan, seperti pedagang kaki lima yang mengambil tempat hampir separuh jalan, para peminta-minta di setiap lampu merah, ulah para sopir angkot yang menyebalkan dan masih banyak lagi.
Setiap hari saya terpancing untuk mengeluarkan komentar kekecewaan, mencak-mencak dan mengeleng-geleng kepala, sampai-sampai teman saya bilang “ Jangan terlalu dipikirin, nanti bisa sakit Pak “. Saya pikir dia benar, karena saya menjadi kesal, mungkin ini yang dikatakan orang “ tua di jalanan “. Saya kemudian membayangkan kalau sikap saya direkam di video, pasti saya akan disebut sebagai orang yang bersikap negatip atau mungkin pecundang, wah gawat !
Kebiasaan mengeluh atau grundel bisa menurunkan kredibilitas kita dan kelihatannya memang tidak profesional. Kalau keluhan kita ditanggapi mah mending, masalahnya jarang sekali orang yang mau bersabar mendengarkan orang yang mengeluh melulu.
NIKMATI SAJA
Akhirnya saya mulai menikmati perjalanan saya. Saya mengambil pelajaran positip dari setiap kejadian yang saya temui di jalan. Saya mulai berpikir dan ingin tahu kenapa jalan raya cepat rusak. Saya belajar cara berbisnis para pedagang kaki lima, gaya hidup para peminta-minta dan terkadang saya bercanda dengan mereka. Saya juga mulai belajar tersenyum akrab menegor supir angkot yang ugal-ugalan. Kelihatannya saya menjadi malu kalau mau bersungut-sungut tanpa ada sesuatu yang bisa saya kerjakan.
Para peneliti sudah membuktikan bahwa tindakan sederhana yang disebut SMILE menyebabkan otak kita melepaskan aliran kimiawi yang disebut endorphins yang membuat kita lebih nyaman. Tapi tanpa para pakar kesehatanpun kita sudah bisa lihat bahwa orang yang banyak tersenyum kelihatannya lebih cantik atau lebih menarik.
JANGAN SALAH ALAMAT
Lantas bagaimana dengan kekurangan-kekurangan tadi, apakah dengan sendirinya terselesaikan ? Tentu tidak ! Saya harus belajar mengalamatkan informasi atau ide saya ke alamat yang benar, apakah kepada Polisi, Lurah, Menteri, DPR atau YLKI ? Rasanya saat ini saya belum tahu pasti, mungkin juga karena saya tidak berani, atau karena saya tidak mau repot. Untunglah selalu ada orang yang perduli dan memiliki solusi yang bijaksana terhadap kekurangan-kekurangan tersebut , dan maafkan saya yang hanya menikmati hasil perjuangan Anda sekalian. Saya akan mencoba mengerjakan apa yang bisa saya lakukan.
Setiap menemui masalah, belajarlah untuk memahami masalah terlebih dahulu kemudian cobalah berpikir jalan keluarnya. Jika Anda merasa mentok barulah bicarakan pada orang yang bisa diajak bicara, tetapi ingat jangan bernada mengeluh apalagi sambil melebih-lebihkan masalah. Bicarakan secara profesional dan netral. Yang lebih penting lagi jangan menyalahkan suatu kondisi yang membuat Anda tidak puas dan jangan menyudutkan satu atau sekelompok orang yang Anda anggap bersalah.
Ronny Siagian
Production Manager of PT. ISTW Founder of CKS Foundation
NYOK HEMAT LISTRIK
Sementara banyak kalangan yang memperdebatkan pembedaan tarif listrik untuk kalangan ekonomi lemah, ekonomi kuat, kalangan industri dan rumah tangga, mari kita selaku warga negara yang baik kita lakukan apa yang bisa kita lakukan.
Meskipun ada yang mengatakan masalah krisis listrik adalah akibat kesalahan management dari pihak PLN, namun kita harus melakukan sesuatu. Tentunya para pejabat yang mengurusi BUMN sudah memikirkan cara menyehatkan PLN kalau memang dikatakan sakit, tapi kita sebagai masyarakat konsumen listrik harus membantu pemerintah dalam menyelesaikan krisis listrik.
OUR FOREST IS BALDING !!
Minggu yang lalu saya membaca sebuah buku yang berjudul Our Iceberg Is Melting karangan John Kotter and Holger Rathgeber. Meskipun buku ini merupakan dongeng koloni penguin di benua Antartika, tapi sangat sarat dengan pelajaran bagi kita. Saya tidak bermaksud mempromosikan buku ini, tapi sangat baik untuk dibaca.
Salah satu hal yang menarik dalam dongeng ini adalah, ketika seekor penguin yang tidak terkenal memberitahukan kepada para pemimpin koloni bahwa bukit es tempat kediaman mereka “terancam hancur”. Isu ini berkembang dengan pro-kontra dan akhirnya bukit es memang benar-benar hancur, untunglah koloni penguin tersebut selamat karena mereka menyikapi isu tersebut dengan serius.
Our Forest Is Balding !!
Mungkin ada miripnya dengan isu Global Warming yang sering kali diperbicangkan bahkan pada bulan Desember 2007 yang lalu diadakan Konfrensi PBB untuk Perubahan Iklim di Bali Indonesia dan Global Warming menjadi isu sentral. Kepemimpinan Indonesia dipuji dalam pertemuan itu.
Tidak lama kemudian, pada tanggal 14 Februari keluar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan. Dalam PP tersebut diizinkan alih fungsi hutan produksi dan hutan lindung dengan tarif sewa sangat murah, yaitu Rp. 1,2 juta – Rp. 3 juta per hektar per tahun atau Rp. 120 – Rp. 300 per meter persegi per tahun.
Memang Hutan yang disewa diperuntukkan untuk Pembangunan demi Kesejahteraan Masyarakat, seperti yang ditegaskan oleh Bapak Presiden tadi pagi di Radio BBC. Meskipun demikian PP Nomor 2 Tahun 2008 ini masih mengundang Pro-Kontra dari bebera Gubernur dan Bupati dan dari kalangan Masyarakat.
Our Forest Is Balding ! teriakan ini mengingatkan kita akan bahaya besar yang akan timbul apabila hutan-hutan kita sudah pada gundul. Oleh karena itu mari kita pertimbangkan matang-matang setiap keputusan yang kita ambil, seberapa besar untung dan ruginya, tentu jangan dilihat hanya dari perspektip saat ini saja tapi jauh kedepan. Mudah-mudahan segera disikapi dengan serius.
Ronny Siagian
JALAN RAYA TAHAN AIR
Terkesan dengan iklan “arloji tahan air”, seseorang membeli arloji tersebut dan setelah sampai di rumah dia merendamnya kedalam air, ingin tahu, tetapi apa yang terjadi ?. Arloji kemasukan air dan tidak lama kemudian mati.
Dengan rasa kesal dia buru-buru kembali ke pedagang dan komplain. Tapi dengan tenangnya si pedagang menjawab, kan saya cuman bilang arloji tahan air, lagi pula kenapa mesti kesal, jangankan arloji, barusan ada orang yang ribut-ribut disini tapi sekarang sudah mati. Waduh.. mengerikan.., tapi ini hanyalah sebuah cerita.
Mungkin bukan demikian halnya dengan jalan raya, karena jalan raya tidak diperdagangkan di pinggir jalan seperti halnya arloji tahan air, akan tetapi dengan kontrak yang dilampiri dengan buku dan gambar yang tebal dan detail. Tapi saya juga nggak tahu persis apakah ada dalam kontrak tersebut yang mengatakan bahwa jalan raya tahan air.
BAH, AIR ? AIR BAH…!!!
Bangun pagi, tahu-tahu rumah sudah tergenang air. “Bah..air” begitu kalimat pertama dari orang-orang Batak yang rumahnya kebanjiran. Sebenarnya bukan hanya orang Batak yang kebanjiran, hanya karena orang Batak yang lebih sering menggunakan kata “bah”, dan sering dijadikan kata guyonan teman-teman ketika bertemu orang Batak.
Dalam bahasa Indonesia kata “bah” berarti besar, tapi dalam bahasa Batak kata “bah” berarti suatu ungkapan pertanda keheranan terhadap sesuatu yang diluar dugaan. “Bah, kok bisa banjir ?, padahal hujannya nggak deras kali”. Saya sering mendengar pertanyaan yang senada dari teman-teman dan tetangga-tetangga. Sebagian orang langsung menjawab, “banjir kiriman !”, “siapa yang kirim ?”, “ya orang Bogorlah !”. Kasihan bangat orang Bogor disalahin begitu. Apakah memang benar-benar itu ulah orang Bogor, tentu tidak !. Lantas siapa dong ?. Jawabnya : kita semua bangsa Indonesia bertanggung jawab atas peristiwa banjir yang sedang melanda negeri kita.
TEBANG POHON, DIKEJAR POLISI
Konon katanya banjir yang terjadi di Jabodetabek bukan hanya karena volume air hujan yang turun dari langit, tapi juga karena adanya peristiwa naiknya permukaan laut sementara daratan tidak lagi memiliki daya serap yang memadai. Ada juga yang menyalahkan orang-orang kaya yang mendirikan perumahan di daerah Puncak dengan izin tidak jelas. Banyak faktor penyebab yang bisa didaftarkan oleh para ahli sehubungan dengan peristiwa banjir yang terjadi akhir-akhir ini. Tentunya kita senang sekali mendengar bahwa akhir-akhir ini pemerintah bersemangat dengan gerakan hutan kota atau gerakan sejuta pohon, semoga dilaksanakan dengan konsisten dan ditanggapi serius oleh semua masyarakat.
TEBANG POHON SEENAKNYA
Suatu kali saya berjalan-jalan di trotoar jalan di Osaka Jepang, disana terlihat pohon-pohon dilindungi dengan semacam pagar yang bagus dan kelihatannya setiap pohon diberi identitas ( saya tidak bisa mengerti isi tulisannya ), katanya ada peraturan (hukum) bagi orang yang merusak pohon tersebut. Berbeda halnya dengan di Jakarta, peraturan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pohon belum begitu kuat, terbukti ketika ada berita bahwa ada anak kecil yang meninggal karena tertimpa dahan pohon di daerah Pulogadung Jakarta, besoknya masyarakat rame-rame menebang pohong yang ada didepan rumah mereka. Sayang sekali, mestinya bukan pohonnya yang ditebang. Kita tidak menemukan penebangan pohon sembarangan di desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, karena orang yang menebang pohon akan kena sangsi.


leave a comment